Pengunjung Online : 302
Hari ini :1.009
Kemarin :8.387
Minggu kemarin:111.714
Bulan kemarin:391.621

Anda pengunjung ke 48.429.372
Sejak 01 Muharam 1429
( 10 Januari 2008 )

Pengunjung baru?
   |   

Ads_C1
Sabtu, 04 Syawal 1435 (Jumat, 1 Agustus 2014)
Custom Search
Beranda > Wisata Wisata Budaya Lainnya > Festival Tira Tangka Balang
Festival Tira Tangka Balang
Kabupaten Murung Raya - Kalimantan Tengah - Indonesia
Festival Tira Tangka Balang
Festival Tira Tangka Balang
Rating : Rating 3.3 3.3 (3 pemilih)

A. Selayang Pandang

“Tira Tangka Balang” merupakan sebuah istilah adat yang menjadi ikon Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, Indonesia. Bahkan, “Tira Tangka Balang” dijadikan slogan utama kabupaten yang dimekarkan dari Kabupaten Barito Utara pada 2002 tersebut. Istilah Tira Tangka Balang dalam bahasa Dayak merupakan rangkaian kata dari bahasa Kandan Siang Murung Ot Danum. Dalam tradisi suku Dayak, makna harfiah dari istilah Murung Ot Danum sebenarnya kira-kira seperti ini: “Kalau sudah membuat tangga untuk menebang sebatang pohon yang sangat besar, maka pohon tersebut harus tuntas sampai tumbang”. Arti harfiah tersebut kemudian dimengerti secara luas dengan pemaknaan bahwa “Kalau bekerja jangan dengan setengah hati, harus sampai tuntas”. Jargon inilah yang kemudian dijadikan pegangan dan penyemangat bagi segenap warga Kabupaten Murung Raya.

Selain menjadi slogan kebanggaan warga Kabupaten Murung Raya, istilah “Tira Tangka Balang” pada akhirnya diabadikan dalam rupa bangunan atau monumen tugu yang diletakkan di jantung pemerintahan Kabupaten Murung Raya. Tugu tersebut menjadi kebanggaan masyarakat di kabupaten yang memiliki luas wilayah 38.617 km² ini. Boleh jadi karena Tira Tangka Balang dijadikan sebagai simbol penggugah semangat masyarakat Kabupaten Murung Raya, maka semboyan ini kemudian digunakan juga untuk menamai sebuah perhelatan budaya, yang tidak lain adalah festival seni dan budaya tahunan khas Kalimantan Tengah yang dinamakan Festival Tira Tangka Balang.


Tugu Tira Tangka Balang
Sumber Foto: http://rozimura.blogspot.com

Festival Tira Tangka Balang menyajikan berbagai jenis kegiatan seni dan budaya khas Kalimantan Tengah untuk dipertandingkan, antara lain perlombaan olahraga tradisional, tarian tradisional, musik tradisional, karungut (seni berkisah, semacam pantun dalam tradisi Melayu atau kidung dalam tradisi Jawa), pakasak lamang (memasak nasi dengan memakai bambu), menempek kenta (membuat makanan berbahan dasar ketan khas Dayak), dan lain-lainnya. Tarian khas Kalimantan Tengah yang diperlombakan dalam event seni dan budaya ini di antaranya adalah tari pedalaman dan tari pesisir. Selain itu, dalam Festival Tira Tangka Balang ini juga diperlombakan kontes pemilihan putra dan putri pariwisata sebagai calon duta wisata Kabupaten Murung Raya.

Perlombaan olahraga tradisional tampaknya menjadi cabang seni/budaya yang paling digemari oleh kalangan penikmat Festival Tira Tangka Balang sehingga citra agenda tahunan ini menjadi lebih lekat sebagai perhelatan lomba olahraga tradisional. Beberapa cabang krida tradisional khas Borneo yang menjadi sajian khas Festival Tira Tangka Balang antara lain: menyumpit, jukung (perahu tradisional), besei kambe (tarik tambang di atas sungai dengan menggunakan perahu), balogo (permainan tradisional khas suku Banjar dengan menggunakan tempurung kelapa),  mangaruhi (tradisi menangkap ikan rawa), sepak sawut (sepak bola api), maneweng (seni menebang pohon), manetek (keahlian memotong kayu), menyila (kemahiran membelah kayu), bagasing (permainan gasing), dan lain-lainnya. Beberapa dari cabang lomba yang dipertandingkan pada Festival Tira Tangka Balang dibagi dalam kategori putra dan putri.

Festival budaya Kalimantan Tengah Tira Tangka Balang ini sudah menjadi agenda rutin tahunan yang diikuti oleh hampir semua kecamatan yang terdapat di Kabupaten Murung Raya. Kesepuluh kecamatan di kabupaten yang beribu kota di Puruk Cahu ini antara lain Murung, Tanah Siang, Laung Tuhup, Permata Intan, Sumber Barito, Sungai Babuat, Tanah Siang Selatan, Barito Tuhup Raya, Seribu Riam, dan Uut Murung (www.wikipedia.org).

Festival Tira Tangka Balang diikuti ratusan peserta dan kontingen dari seluruh kecamatan di Kabupaten untuk memperebutkan Piala Bergilir Bupati Murung Raya. Festival ini juga dimanfaatkan sebagai persiapan sekaligus pencarian bibit baru bagi kontingen Kabupaten Murung Raya untuk ikut serta dalam event seni dan budaya tingkat provinsi, Festival Isen Mulang, yang pada tahun 2009 ini diselenggarakan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Kabupaten Murung Raya sendiri merupakan juara bertahan dengan meraih predikat sebagai juara umum pada Festival Isen Mulang tahun 2008 lalu.

Festival seni dan budaya ini telah menjadi agenda tetap Pemerintah Kabupaten Murung Raya dan menjadi andalan untuk melestarikan serta menggairahkan tradisi berkesenian dan kebudayaan yang dimiliki masyarakat Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Murung Raya. Diharapkan, festival ini dapat menggali potensi dan kreativitas seniman dan budayawan yang ada di Kabupaten Murung Raya untuk menuangkannya dalam gerak dan seni yang memiliki nilai estetika tinggi serta mencerminkan nilai kepribadian serta budaya masyarakat Kabupaten Murung Raya (www.kaltengpos.com). Festival Tira Tangka Balang menjadi wadah untuk memfasilitasi nilai seni budaya lokal yang bermunculan sehingga memperkaya khasanah seni dan budaya Kabupaten Murung Raya, sekaligus sebagai upaya untuk membentengi arus masuknya budaya luar yang dapat mengikis kekayaan budaya daerah yang dimiliki Kabupaten Murung Raya.

Selain sebagai upaya untuk mempertahankan tradisi lokal, perhelatan Festival Tira Tangka Balang juga mulai diarahkan sebagai komoditas dan ajang promosi sektor kepariwisataan Kabupaten Murung Raya di dalam maupun luar daerah. Dengan digelarnya perhelatan seni dan budaya ini secara rutin, diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga dapat mengangkat kemakmuran masyarakat dan diharapkan dapat meningkatkan pemasukan daerah Kabupaten Murung Raya di masa yang akan datang. Bupati Murung Raya, Willy M. Yoseph, sendiri mengatakan bahwa Festival Tira Tangka Balang merupakan upaya pemerintah daerah untuk melestarikan seni dan budaya Kabupaten Murung Raya sebagai aset yang tidak ternilai harganya. Bupati mengharapkan, Festival Tira Tangka Balang akan mampu menjadi primadona untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Murung Raya sehingga dapat memberikan kontribusi yang maksimal dari sektor pariwisata (www.kaltengpos.com).

B. Keistimewaan

Festival Tira Tangka Balang sebenarnya menawarkan berbagai daya tarik yang unik dan menarik bagi wisatawan karena jenis-jenis kegiatan yang disajikan dalam festival seni dan budaya ini sudah cukup langka dan jarang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Festival Tira Tangka Balang menampilkan berbagai kegiatan seni dan budaya daerah yang dimiliki suku-suku lokal di Kabupaten Murung Raya, termasuk suku Dayak dan suku Banjar, yang memang kaya akan budaya yang sangat perlu untuk dilestarikan supaya tidak mengalami kepunahan.

Daya tarik Festival Tira Tangka Balang misalnya dapat dilihat dari olahraga tradisional yang dipertandingkan, karena cabang-cabang olahraga tradisional tersebut tidak terwadahi dalam event-event olahraga “resmi” versi pemerintah dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI), seperti Pekan Olahraga Nasional (PON), Pekan Olahraga Daerah (Porda), ataupun Pekan Olahraga Provinsi (Porprov). Lihat saja misalnya cabang menyumpit yang kini mulai jarang ditemukan. Sumpit, di Kalimantan Tengah dikenal dengan istilah sipet, adalah senjata tradisional yang sering digunakan oleh suku Dayak maupun oleh masyarakat Melayu (Bintang Sariyatno, www.betang.com). Dari segi penggunaannya, sumpit memiliki keunggulan tersendiri karena dapat digunakan sebagai senjata jarak jauh dan tidak merusak alam karena bahan pembuatannya yang alami.

Selain sumpit, perlombaan perahu tradisional jukung juga tidak kalah menarik. Perahu jukung adalah perahu khas yang sering digunakan oleh warga suku Banjar. Bahkan, jauh sebelum suku Banjar muncul dan berkembang, perahu jukung telah digunakan sebagai alat transportasi penting dalam penyebaran penduduk dari pesisir menuju pedalaman Kalimantan. Budaya perahu jukung sebenarnya sudah dikenal pada 2000 tahun sebelum masehi, yaitu dari migrasi pertama orang-orang Proto Melayu (Melayu Tua) dari Sungai Mekong, Yunan, Cina Selatan ke Borneo. Saat itu, para imigran dari Proto Melayu, yang merupakan asal usul suku Dayak, telah mengenal peralatan dari logam dan pada abad ke-6, pembuatan perahu jukung semakin berkembang di Kalimantan (Fikria Hidayat, www.fikria.multiply.com). Akan tetapi, tradisi perahu Jukung pada masa sekarang mulai terpinggirkan karena kelestarian sungai juga mulai tidak diperhatikan lagi oleh masyarakat. Diadakannya Festival Tira Tangka Balang diharapkan dapat menjaga kelestarian tradisi perahu jukung.


Sumpit, Diperlombakan dalam Festival Tira Tangka Balang

Sumber Foto: http://betang.com

Tidak hanya varia olahraga tradisional saja yang menjadi daya tarik Festival Tira Tangka Balang. Seni berpantun pun menambah semarak pagelaran budaya ini, dengan diadakannya lomba karungut. Karungut adalah seni berkisah dan bertutur khas Dayak yang kontennya mirip pantun dalam tradisi Sumatra (www.jiwamusik.wordpress.com). Karungut merupakan semacam sastra lisan, sejenis dengan Mahidin di Kalimantan Selatan atau Mocopat di Jawa Tengah. Seni karungut dibawakan dengan sangat komunikatif karena pesan-pesan yang disampaikan berbentuk pantun dalam bahasa daerah Dayak dan mudah dimengerti penonton atau pendengarnya. Karungut diiringi alat musik kecapi, tapi bisa juga diiringi band atau organ. Di samping itu, Karungut juga dapat dimanfaatkan sebagai media tradisional untuk menyampaikan pesan moral, pendidikan, kesehatan, dan isu-isu aktual bertaraf lokal dan nasional (www.entertainment.id.finroll.com).

Perlombaan kuliner tradisional juga menjadi pesona tersendiri dalam perhelatan Tira Tangka Balang. Terdapat beberapa jenis lomba memasak yang digelar, seperti pakasak lamang dan menempek kenta. Pakasak lamang adalah seni memasak nasi dengan menggunakan buluh bambu, sedangkan menempek kenta merupakan proses tradisional suku Dayak ketika membuat makanan dengan bahan dasar ketan khas Dayak yang kini sudah sangat langka. Oleh karena itulah, pelaksanaan Festival Tira Tangka Balang yang diselenggarakan secara rutin merupakan kerja budaya yang harus tetap dilakukan demi menjaga kelestarian adat, budaya, dan seni masyarakat Kalimantan Tengah.

C. Lokasi

Festival seni dan budaya Tira Tangka Balang diselenggarakan setiap tahun sekali di Kabupaten Murung Raya, Provinsi Kalimantan Tengah, Indonesia. Tempat diadakannya festival seni dan budaya ini setiap tahunnya berganti-ganti menurut giliran kecamatan di Kabupaten Murung Raya yang ditunjuk sebagai tuan rumah.

D. Akses

Kabupaten Murung Raya terletak tepat di tengah-tengah Provinsi Kalimantan Tengah sehingga bisa dicapai melalui berbagai jalur, baik lewat darat, sungai, maupun udara. Selain dari Kota Palangkaraya yang merupakan ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah, Kabupaten Murung Raya dapat juga ditempuh dari wilayah-wilayah perbatasan kabupaten ini, seperti Kabupaten Kapuas Hulu (Kalimantan Barat) dan Kabupaten Kutai Barat (Kalimantan Timur) di sebelah utara, Kabupaten Kutai Barat dan Kabupaten Barito Utara (Kalimantan Tengah) di sebelah timur, Kabupaten Gunung Mas (Kalimantan Tengah) dan Kabupaten Kapuas Hulu (Kalimantan Barat) di sebelah barat, serta Kabupaten Barito Utara dan Kabupaten Kapuas (Kalimantan Tengah) di sebelah selatan (www.regionalinvestment.com).


Letak Kabupaten Murung Raya
Sumber Foto: http://regionalinvestment.com

Terdapat dua alternatif perjalanan darat yang dapat ditempuh dari Kota Palangkaraya untuk sampai ke Puruk Cahu, ibu kota Kabupaten Murung Raya. Pertama, perjalanan darat dapat ditempuh dari Kota Palangkaraya, kemudian melewati Buntok, Muara Teweh, hingga sampai di Puruk Cahu. Alternatif perjalanan melalui jalur yang pertama ini memakan waktu sekitar 12 jam. Rute yang kedua juga berangkat dari Kota Palangkaraya, kemudian Banjarmasin, Muara Teweh, dan berakhir di Puruk Cahu, dengan masa perjalanan lebih lama dibanding rute pertama, yaitu kurang lebih bisa memakan waktu 20 jam lamanya. Namun, direkomendasikan lebih baik memilih rute yang kedua, meskipun waktu perjalanannya lebih lama, dikarenakan kualitas jalan yang lebih baik, yakni sudah berupa jalan beraspal halus. Sedangkan jika menempuh jalur yang kedua, kendati relatif lebih singkat, namun kondisi jalannya masih belum begitu baik, yakni masih berupa campuran aspal, pasir, tanah, dan koral (Mirzantio Erdinanda, www.mirzantio.blogspot.com).

Selain jalur darat, masih ada alternatif perjalanan lewat jalur lainnya, yakni melalui sungai via Sungai Barito. Kabupaten Murung Raya bisa pula dituju lewat jalur udara karena layanan penerbangan menuju Murung Raya sudah mulai dibuka. Jika berangkat dari Palangkaraya atau Balikpapan (Kabupaten Kalimantan Timur), sekarang sudah tersedia jasa layanan penerbangan yang akan mengantar wisatawan ke Kabupaten Murung Raya dengan waktu yang lebih cepat dan nyaman. Namun, karena keterbatasan fasilitas, jika memilih perjalanan udara menuju Murung Raya, pelancong harus mengeluarkan biaya yang cukup mahal, ditambah lagi jadwal kedatangan pesawat yang belum tentu ada setiap harinya (Mirzantio Erdinanda, www.mirzantio.blogspot.com).

E. Harga Tiket

Untuk menyaksikan rangkaian acara seni dan budaya yang unik dalam perhelatan Festival Tira Tangka Balang, pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun karena acara ini sudah dijadikan sebagai agenda rutin serta merupakan salah satu obyek hiburan bagi masyarakat Kabupaten Murung Raya dan sekitarnya. Namun, tidak dipungutnya tarif ini belum diketahui apakah juga berlaku bagi wisatawan dari luar negeri.

F. Akomodasi dan Fasilitas

Selain menikmati wisata seni dan budaya dengan mengikuti agenda acara Festival Tira Tangka Balang, Kabupaten Murung Raya juga menawarkan berbagai pilihan wisata lainnya yang tidak kalah menarik, di antaranya adalah wisata alam seperti arung jeram, sungai, danau, air terjun, pegunungan, hutan alam, dan sumber air panas, serta taman berburu, taman keanekaragaman hayati, dan agrowisata. Obyek wisata sejarah Makam Sultan Muhammad Semam Makam (Sultan Kerajaan Banjar) dan Betang Konut (rumah adat suku Dayak) juga bisa dijadikan pilihan wisata lainnya. Kabupaten Murung Raya juga punya tempat tujuan yang lain daripada yang lain, yakni lokasi penambangan emas bernama Pandulangan Emas Masuparia, yang terletak di kaki bukit Manyawang.

Karena masih berusia muda setelah dimekarkan dari Kabupaten Barito Utara pada 2002, fasilitas pendukung yang terdapat di Kabupaten Murung Raya juga masih dalam tahap perkembangan. Hingga saat ini, jumlah hotel atau penginapan yang terdapat di kabupaten ini adalah sebanyak 14 buah, masing-masing enam penginapan berada di Kecamatan Murung, empat penginapan di Kecamatan Sumber Barito, satu penginapan di Kecamatan Permata Intan, dan tiga penginapan di Kecamatan Laung Tuhup (www.kabmurungraya.go.id).

(Iswara NR/wm/04/10-09)

__________

Daftar Bacaan


Share
Facebook
Dibaca 4.660 kali
Rating :
Jika Anda pernah mengujungi objek wisata ini, berikan rating dan
komentar untuk menjadi perhatian Dinas Pariwisata atau pengelola
obyek wisata setempat.
Komentar - komentar

Hendra   15/05/10 04:40
Ampah, BarTim Kalimantan Tengah

wes,keren..
Komentar Anda tentang obyek wisata di atas :
Nama : *
Alamat : *
Email : *
URL / Website :
Misal : http://www.wisatamelayu.com/
Komentar - komentar : *
Komentar anda akan dimoderasi oleh administrator terlebih dahulu.
    your browser doesn't support image
Masukkan text diatas
*
   
* = Harus diisi
Fasilitas
  • Hotel
  • Bank
  • ATM dan Penukaran Uang
  • Pusat Informasi Wisata
  • Restoran dan Cafe
  • Biro Perjalanan
  • Souvenir / Cindera Hati
  • Imigrasi
  • Konsulat
  • Terminal Bus
  • Stasiun Kereta Api
  • Pelabuhan Laut / Dermaga
  • Pelabuhan Udara / Bandara
  • Maskapai Penerbangan
  • Kantor Pos
  • Telekomunikasi
  • Rumah Sakit
  • Fotografi & Studio
  • Catering
  • Fasilitas Lainnya
Ads